JIN TERBUAT DARI APA?

api-orange-plasma

Islam menerangkan secara jelas materi yang menjadi bahan baku tubuh jin adalah “Min Mariijan Min Naar” dan “naarin samuum”. Tidak ada konsep agama lain atau kitab lain menjelaskan tentang bahan baku tubuh jin.

Dan Dia menciptakan jin dari nyala bagian api (min maarijin min naar)”
(Q.S. Ar-Rahman [55] : 15)

Dan Kami ciptakan Al-Jan sebelum (adam) dari api yang sangat panas (min naarin samuum) (Q.S. Al-Hijr [15] : 27)
Dari Urwah dari Aisyah Rasulullah s.a.w. bersabda : malaikat diciptakan dari cahaya (nur) sedang kan jin diciptakan dari nyala api (mariij) dan Adam diciptakan dari sesuatu yang telah disebutkan pada kalian (H.R. Muslim)
Maka kunci dalam memahami unsur dan molekul makhluk jin terdapat pada ayat dan hadits ini. Apa sesungguhnya min mariijan min naar itu? Dan apa itu naarin samuum?

Apa Itu Api?

Arti dari “naar” tidak ada perbedaan pada semua pendapat. Naar adalah api. Dalam makna khusus, “naar” adalah neraka. Namun dalam hal pembicaraan mengenai dzat penciptaan, maka “naar” di sini adalah api.

Tapi apa sebenarnya itu api? Pada zaman dahulu orang mengira api adalah salah satu materi elementer atau dzat dasar. Fillsuf zaman dahulu membedakan zat elementer adalah api, tanah, air dan udara. Tapi zaman sekarang kita sudah tahu dzat elementer itu disebut unsur. Sedangkan benda-benda seperti air, udara, adalah gabungan dari beberapa unsur. Apalagi tanah, terdiri puluhan unsur.

Zaman sekarang ilmuwan sudah mengetahui bahwa api sendiri sebenarnya bukan nama dzat bukan nama unsur. Melainkan api sebenarnya adalah reaksi kimia perubahan wujud dzat dari gas menjadi plasma. Maka penampilan api itu bisa terjadi dalam dua kondisi : pertama, terjadi pada lingkungan ber-udara (ada oksigen). Maka dalam kasus ini, api adalah proses reaksi oksidasi

Kedua, ada penampakan seperti api yang sebenarnya bukan seperti api di bumi, namun terjadi pada ruang hampa udara (tak ada oksigen) Maka ini sebenarnya bukan api melainkan reaksi ionisasi dan fusi atom. Inilah yang terjadi pada ledakan bintang (supernova), semburan ekor komet, atau awan nebula.

Di bumi, api dikenal adalah hasil dari reaksi kimia yang disebut reaksi oksidasi. Reaksi oksidasi, yaitu reaksi sebuah dzat  dengan molekul oksigen. Reaksi oksidasi adalah naiknya bilangan oksidasi pada sebuah unsur. Maka jika reaksi oksidasi ini terjadi dalam waktu cepat, dan suhu tinggi, maka naiknya bilangan oksidasi ini menunjukkan lepasnya elektron, sehingga mengeluarkan cahaya yang nampak oleh mata kita sebagai cahaya api.

Tahapan terbentuknya api bisa dilihat di bawah ini :

proses-terjadinya-api

Apa Arti Maarij?

Namun cerita belum selesai. Jin tidak dikatakan terbuat dari “naar” atau plasma api. Melainkan jin terbuat dari min mariijan min naar Akar kata  mim-ro-jim muncul 6 kali dalam Al-Qur’an dalam berbagai bentuk. Dua kali dalam bentuk kata kerja maroja dua kali dalam bentuk kata benda : marjan/em>, satu kali dalam bentuk kata sifat mariij dan satu kali dalam bentuk kata sandang maarij

Sahabat Nabi s.a.w. bernama Ibnu Abbas r.a. ketika menafsirkan min mariijan min naar mengatakan bahwa maksudnya adalah api yang sangat bersih. Ikrimah, Mujahid dan Al-Hasan mengartikan min mariijan min naaradalah adalah “panas ekstrim nya api”

Dalam Tafsir Jalalain ketika menafsirkan Surat Ar-Rahman  ayat 15 disebutkan artinya : nyala/pijaran api yang tanpa asap
Imam Nawawi dalam Syarah Hadits Muslim ketika mengomentari hadits : Dari Urwah dari Aisyah Rasulullah s.a.w. bersabda : malaikat diciptakan dari cahaya (nur) sedang kan jin diciptakan dari nyala api (mariij)(H.R. Muslim) mengatakan bahwa mariij adalah api yang tanpa asap dicampur dengan api yng gelap kehitaman

Dalam Mu’jam Wasith disebutkan makna maarij Al-maarij artinya: pijaran dzat api yang teramat terang, atau api tersebut bercampur dengan kegelapan api. Sebagaiman dalam Al-Qur’an Aziz, dan kami ciptakan jin dari maarijin min naar,

Dalam kamus Munawwir kata “maarij” diartikan sebagai “Asy-Sya’latu Dzaatul Lahab” atau api obor yang menyala-nyala, menjilat-jilat atau menyambar-nyambar. (Kamus Munawir Hal 1323)

Maka dari sini saya menyimpulkan bahwa jin bukan terbuat dari api seperti api biasa atau seperti api kompor apalagi api lilin. Di sini ada isyarat terjadinya pijaran, semburan, dan suhu yang teramat tinggi. Bahkan boleh dikatakan api yang dipanaskan dengan suhu ekstrim.

Maka api adalah perubahan wujud dari gas menjadi plasma. Plasma adalah wujud materi yang ke-4 setelah padat, cair dan gas. Jika disertai dengan suhu yang tinggi dan terjadi dengan sangat cepat, nampak seperti semburan atau pijaran plasma. Plasma adalah gas yang mengalami ionisasi, yaitu terpisahnya molekul-molekul menjadi unsur-unsur penyusunnya dalam suhu tinggi. Maka kami simpulkan bahwa naar atau api di sini adalah plasma api.

Berbeda dengan sifat wujud gas, maka plasma itu jika terkena sambaran listrik tegangan tinggi, akan nampak seperti bercahaya atau berpendar. Proses ini memungkinkan jin menjelma menjadi wujud tertentu. Fenomena aurora, cahaya hindenberg, adalah contoh ionisasi gas yang terkena listrik karena diterpa medan elektromagnetik dari angin surya matahari

Di bumi, tidak ada api tanpa oksigen. Namun ada pula penampakan seperi api yang bisa terjadi dalam ruang hampa udara (tanpa oksigen) namun sebenarnya ini bukan api yang kita kenal di dunia. Ini adalah plasma yaitu gas yang terionisasi. Gas dapat terionisasi dalam ruang hampa udara (tak ada oksigen) yaitu apabila terkena panas suhu ekstrim atau terkena listrik tegangan sangat tinggi ekstrim, atau terkena medan magnet yang amat kuat.

Apa Arti Samuum ?

Tidak cukup sampai marijan naar dalam ayat yang lain Allah menjelaskan bahwa jin terbuat dari naari samuum naar kita sudah tahu artinya seperti dijelaskan di atas. Namun apa itu samuum? Akar kata samuum berasal dari huruf sin-mim-mim.

Kata dengan huruf sin-mim-mim muncul 4 kali dalam Al-Qur’an. Sekali dalam bentuk kata benda samm, dan 3 kali dalam bentuk kata benda samuum.
Sekali kata samm muncul pada sebagai berikut :
hingga unta masuk ke mata (lubang) jarum (Q.S. Al-A’raaf [7]: 40)
Kata “samm” di sini artinya “mata” jarum yang maksudnya adalah “lubang” jarum.
Sedangkan tiga kali kata samuum muncul pada ayat Q.S. Ath-Thuur [52] : 27 yang artinya : “Maka Allah memberikan karunia kepada kami dan memelihara kami dari azab yang amat panas membakar”. Maka kata samuum pada ayat di atas artinya “yang amat panas membakar” yaitu maksudnya neraka.

Kemudian pada ayat Q.S. Al-Waaqi’ah [56] : 42 yang artinya : Dalam (siksaan) angin yang amat panas, dan air panas yang mendidih. Jadi pada ayat di atas kata samuum artinya adalah “angin yang teramat panas”.

Dan terakhir adalah pada ayat Q.S. Al-Hijr [15] : 27 yang artinya Dan Kami telah menciptakan jin sebelumnya (yaitu sebelum Adam) dari api yang amat sangat panas.pada ayat di atas kata samuum artinya adalah “suhu ekstrim yang teramat panas”

Kata samuum dalam kamus Munawwir adalah ar-roihu harroh atau angin panas seperti dalam kalimat habbat fiihis samuum, artinya berhembus angin panas dengan temperatur ekstrim. (Kamus Munawir Hal 343). Menurut Terjemah Al-Qur’an oleh M. Pickthali arti samuum adalah inti dari api. Menurut Muhammad Mahmud Gholi, samuum kadang diartikan “merusak” Menurut Ahmed Ali dalam Al-Qur’an and Contemporary Translation, arti samuum adalah “panas yang terpancar”. Menurut Dr. Laleh Bakhtiar, samuum adalah “angin yang membakar”. Amatul Rahman Omar menerjemahkan samuum adalah “angin yang amat sangat panas”. Sayid Qutb dalam Fizhilalil Qur’an mengartikan samuum adalah angin yang amat panas. Rashad Khalifa menyatakan samuum adalah angin yang berkobar atau panas sangat terik.

Dalam pembicaraan orang awam di Arab ketika itu samuum atau simoom adalah angin badai yang kering dan sangat panas yang sering terjadi di gurun sahara dan jazirah arab. Samumm juga berarti beracun. Sering disebut angin beracun atau angin jahat yang merusak karena badai gurun ini merusak apa saja yang dilewatinya.

Kesimplannya arti kata samuum tidak terlepas dari perkataan amat sangat panas atau “suhu ekstrim”. Maka pengertian “naari samuum” adalah plasma api yang dipanaskan terus dengan suhu ekstrim yang amat panas. Apa jadinya jika gas plasma api dipanaskan terus menerus dengan suhu ekstrim yang amat panas? Inilah yang diisyaratkan dengan api hitam. Maka aura jin memang berwarna hitam.

Api Yang Sangat Panas Berwarna Hitam?

Dapat kita simpulkan bahwa makna samuum tidak terlepas dari perkataan membakar, sangat panas, atau suhu yang sangat ekstrim. Sedankan kata maarij tidak terlepas dari perkataan bersih, tanpa asap dan berwarna hitam gelap. Jadi makhluk jin itu terbuat dari perpaduan api yang amat sangat panas, dan api yang amat bersih, tanpa asap dan berwarna hitam gelap. Sedangkan sebelumnya telah dijelaskan bahwa api bukanlah dzat. Api adalah reaksi kimia oksidasi, atau reaksi ionisasi, perubahan wujud dari gas menuju plasma. Jadi apa yang bisa kita simpulkan dari semua isyarat ini?

Warna api tergantung pada suhunya. Tapi warna api juga bisa tergantung dari unsur apa yang terbakar. Pada pembakaran sodium akan menghasilkan api berwarna oranye, pembakaran stronsium klorida mengahasilkan warna merah, pembakaran kalium nitrat menghasilkan warna ungu, pembakaran boron menghasilkan warna hijau, pembakaran tembaga menghasilkan warna biru, tapi api hitam itu pembakaan unsur apa?

Api yang berwarna merah umumnya bersuhu di bawah 1.000 derajat celsius. Api lilin berwarna merah bersuhu sekitar 600-700 derajat Celcius. Api berwarga biru seperti gas elpiji, bersuhu di bawah 2.000 derajat Celcius. Adapun jika lebih panas lagi, yang bersuhu di atas 2.000 derajat Celcius, api akan berwarna putih. Dalam kondisi suhu yang amat sangat ekstrim plasma dari api akan berubah menjadi wujud ke-5 yaitu quark-gluon plasma yang berwarna hitam legam. Dan api seperti ini adalah api neraka.

“Api neraka itu dinyalakan semenjak seribu tahun. hingga menjadi merah, lantas dinaikkan lagi sepanjang seribu tahun, hingga beralih menjadi putih, lalu dinaikkan lagi sepanjang seribu tahun lagi. hingga menghitam, itulah yang dimaksud dengan api hitam legam”. (H.R. Tirmidzi).

Dari Abu Hurairah r.a. Rasulullah s.a.w. bersabda : “Sesungguhnya neraka jahannam itu lebih panas 70 kali dari api mu di dunia ini. Dan api neraka itu berwarna hitam serta gelap tak bercahaya”.

“Api kalian ini yang dinyalakan oleh anak cucu Adam hanyalah 1 bagian dari 70 bagian dari panasnya api Jahannam. Mereka berkata, “Demi Allah wahai Rasulullah, api di dunia ini saja sungguh sudah cukup (untuk menyiksa).” Maka beliau bersabda, “Maka sesungguhnya api jahannam dilebihkan 69 kali lipat panasnya, dan setiap bagiannya (dari 69 ini) mempunyai panas yang sama seperti api di dunia (H.R. Bukhari No. 3265 dan Muslim No. 2843)

Ubay bin Ka’ab r.a. berkata : “Neraka itu gelap gulita seperti lautan yang dalam, yang diliputi leh ombak, yang di atasnya ada ombak lagi, gelap gulita yang bertindih-tindih, apabila penghuni neraka mengeuarkan tangannya, tiadala ia bisa melihatnya, dan barang siapa tiada diberi cahaya oleh Allah, maka tiadalah ia mempunyai cahaya sedikitpun…”

Perkataan Ubay bin Ka’ab ini sesuai dengan firman Allah : “Bagi mereka lapisan-lapisan dari api di atas mereka dan di bawah merekapun lapisan-lapisan (dari api). Demikianlah Allah mempertakuti hamba-hamba-Nya dengan azab itu. Maka bertakwalah kepada-Ku Hai hamba-hamba-Ku.” [QS: Az-Zumar:16]

Dari Rabi bin Anas, Abu Ja’far berkata : “Sesungguhnya Allah menciptakan api di dunia ini bercahaya dan mampu menerangi sekelilingnya sebagai salah satu kenikmatan bagi penghuni dunia, namun Allah menciptakan api neraka dengan warna hitam pekat tidak bercahaya seperti di dalam kubur”

Al-A’masy meriwayatkan dari Abu Dhabyan dari Sulaiman berkata : “Neraka itu hitam Gelap, baranya tidak pernah padam dan kobarannya tidak bercahaya, kemudian dia membacaya ayat 50 surat Al-anfal : “Rasakanlah olehmu siksa neraka yg membakar”

Dalam ilmu astro fisika dikenal benda langit bernama black hole. Yaitu sebuah bintang yang tadinya seperti matahari, namun karena ia semakin padat, akhirnya ia berubah menjadi black hole. Benda black hole ini berwarna hitam bahkan nyaris tidak terlihat oleh mata karena gaya gravitasinya yang amat sangat ekstrim (super gravitasi) sehingga cahaya pun terserap (ditarik) oleh gaya gravitasi black hole ini. Sehingga semua jenis benda dan cahaya terperangkap ke dalam tarikan gravitasi black hole ini. Maka bintang super padat ini berwarna hitam pekat tak bercahaya sama sekali. Karena ia menyerap semua energy termasuk cahaya, maka di inti tubuhnya diperkirakan temperaturnya tidak terhingga.

Advertisements

BAGAIMANA JIN MEMASUKI TUBUH MANUSIA?

BAGAIMANA JIN MERASUKI TUBUH MANUSIA?

Oleh : Abu Akmal Mubarok

Image

Al-Qur’an sendiri mengisyaratkan adanya fenomena manusia kerasukan syaithan sebagaimana ayat sbb:

Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kerasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila (Q.S. Al-Baqarah : 275)

Dari Shafiyyah binti Huyay, Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya setan itu berjalan dalam tubuh anak Adam sebagaimana darah mengalir dalam tubuhnya” (H.R. Muslim)

Sehubungan dengan masalah kesurupan ini, Ibnu Taimiyyah dalam bukunya Majmu al-Fatawa (24/276), berkata: “Para ulama ahli sunnah wal jama’ah sepakat, bahwa jin dapat masuk ke dalam tubuh dan badan manusia. Hal ini berdasarkan firman Allah sbb:

Artinya: “Orang-orang yang makan (mengambil) riba, tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran tekanan penyakit gila” (Q.S. Al-Baqarah:275).”

Abdullah bin Ahmad bin Hanbal pernah bertanya kepada ayahnya, Ahmad bin Hanbal: “Sesungguhnya orang-orang berkata bahwa jin tidak bisa masuk ke badan orang-orang yang kesurupan. Imam Ahmad bin Hanbal berkata: “Anakku, mereka berkata bohong.  Mereka hanya berkata dengan ucapannya sendiri”

Ibnu Taimiyyah juga berkata: “Perkataan ini (jin dapat masuk ke dalam tubuh manusia) adalah perkataan yang masyhur (dikenal oleh semua ulama). Orang yang kemasukkan jin (kesurupan) tidak akan merasakan sakit ketika dipukul, kata-katanya akan ngelantur. Orang yang kemasukan jin ini akan menampakkan banyak keanehan,mulai dari bicara dan gerakannya. Seolah-olah yang berkata dan bergerak itu adalah orang tersebut (orang yang kesurupannya), padahal hakikatnya adalah jenis lain, bukan manusia (yaitu jin)”. Bahkan, Ibnu Taymiyyah masih dalam al-Majmu Fatawa nya mengatakan: “Tidak ada seorangpun ulama yagn mengingkari bahwa jin dapat memasuki tubuh manusia yang lalai mengingat Allah. Barangsiapa yang mengingkari hal ini dan mengatakan bahwa syara’ tidak mengakui hal demikian, maka sungguh dia telah mendustai syara itu sendiri. Tidak ada dalam dalil-dalil syara yang menolak hal itu (tidak ada dalil satu pun yang mengingakari bahwa jin dapat masuk ke tubuh manusia yang kesurupan). Mereka yang mengingkari hal ini hanyalah sekelompok kecil dari golongan Mu’tazilah yakni Imam Al-Jubai dan Abu Bakar ar-Razi.

Bagaimana Jin Memasuki Tubuh Manusia?

“(aku berlindung) dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul (Q.S. Al-Falaq:3-4)

Salah satu modus masuknya jin ke dalam tubuh manusia ialah melalui ritual tertentu para tukang sihir atau dukun pemuja setan, kemudian mantera itu dihembuskan kepada manusia baik langsung maupun melalui medium buhul –buhul yaitu boneka yang dibuat dari ikatan kain-kain. Maka jin akan mengikuti hembusan itu memasuki target yang telah ditetapkan tukang sihir.

Biasanya untuk menentukan target tsb tukang sihir mengambil beberapa helai rambut atau benda-benda pribadi milik orang yang menjadi target atau sambil menyebutkan nama lengkap dan orangtuanya (bin / binti). Dengan cara demikian jin akan mengendus mencari dimana posisi orang tsb.

Jin masuk melalui mulut

“Abu Said berkata: Rasulullah s.a.w. bersabda: “Apabila seseorang dari kalian menguap, letakkanlah tangannya pada mulutnya (tutuplah), karena setan akan masuk bersama dengan orang yang menguap (yang mulutnya tidak ditutup)” (H.R. Muslim)

Abu Hurairah berkata, Rasulullah S.a.w. bersabda: “Sesungguhnya Allah menyukai bersin dan membenci menguap. Apabila seseorang bersin lalu mengucapkan al-hamdulillah, maka muslim yang mendengarnya harus mendoakannya. Adapun menguap datangnya dari setan, karenanya tahanlah sedapat mungkin. Apabila ia menguap terus keluar suara “haaa”, maka setan akan tertawa” (H.R. Bukhari)

Jin masuk melalui kuku

Wahai Abu Hurairah, potonglah (perpendek) kuku-kukumu. Sesungguhnya setan mengikat (melalui) kuku-kuku yang panjang. (H.R. Ahmad)

Jin masuk melalui hidung

Bahwa Nabi s.a.w.. bersabda: Apabila salah seorang di antara engkau bangun tidur, hendaklah mengeluarkan air dari hidungnya (istintsar) tiga kali, karena setan itu menginap di batang hidungnya. (H.R. Muslim)

Jin memasuki telinga

Abdullah berkata, “Disebutkan di sisi Nabi bahwa ada seorang laki-laki yang selalu tidur sampai pagi tanpa mengerjakan shalat (malam). Lalu beliau bersabda, ‘Setan telah kencing di telinganya (H.R. Muslim)

DIAMANAKAH JIN TINGGAL?

DIAMANAKAH JIN TINGGAL?

Oleh : Abu Akmal Mubarok

Image

Sebagaimana makhluk lainnya, jin juga memiliki tempat tinggal. Lalu di manakah tempat tinggal jin?

a.    Di rumah-rumah

Dari Sa’id Al Khudri dikatakan Rasulullah s.a.w. bersabda : Di dalam rumah terdapat penghuni-penghuni (jin) maka jika kamu melihat sesuatu (yang aneh) maka usirlah ia 3X kalau ia pergi maka biarkanlah, tapi jika ia membandel (tidak mau pergi) maka bunuhlah, sebab ia pasti jin kafir (H.R. Muslim)

“Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tidak ada satu rumah orang muslim pun kecuali di atap rumahnya terdapat jin muslim. Apabila ia menghidangkan makanan pagi, mereka (jin) pun ikut makan pagi bersama mereka. Apabila makan sore dihidangkan, mereka (jin) juga ikut makan sore bersama orang-orang muslim. Hanya saja, Allah menjaga dan menghalangi orang-orang muslim itu dari gangguan jin-jin tersebut” (H.R. Abu Bakar dalam Kitab Fathul Bari oleh Ibnu Hajar Atsqolani).

b.    Di Jamban / WC

Dari Zaid bin Arqam, Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya jamban-jamban (WC) itu dihuni oleh Jin” (H.R. Abu Dawud, Nasa’i, Ibnu Majah dan Ahmad)

c.    Di Lubang-Lubang

Dari Abdullah bin Sarjas, Rasulullah s.a.w. bersabda: “Janganlah seseorang di antara kalian kencing di lubang”. Mereka bertanya kepada Qatadah: “Mengapa tidak boleh kencing di lobang?” Qatadah menjawab: “Rasulullah S.a.w. mengatakan karena lubang itu adalah tempat tinggalnya golongan jin” (H.R. Nasai dan Ahmad)

Telah menceritakan kepada kami Ubaidullah bin Umar bin Maisarah telah menceritakan kepada kami Mu’adz bin Hisyam telah menceritakan kepada saya Ayahku dari Qatadah dari Abdullah bin Sarjis bahwasanya Rasulullah s.a.w. melarang kencing di lubang. Mereka bertanya kepada Qatadah; “Apa yang membuat kencing di lubang dilarang?” Dia menjawab; “Dikatakan bahwa ia adalah tempat tinggal jin.” (H.R. Abu Daud No. 27 dan Imam Ahmad No. 19847) Nashiruddin Al-Albani mengatakan hadits ini dla’if namun Ibnu Hajar Asqolani, Yahya bin Ma’in, Al-Ajli dan Ibnu Hibban mengatakan semua perawinya tsiqoh tsabat

d.    Di Padang Pasir dan Goa

“Dari Ibnu Mas’ud ra berkata: “Suatu hari kami (para sahabat) berkumpul bersama Rasulullah S.a.w.. tiba-tiba kami kehilangan beliau, lalu kami cari-cari di lembah-lembah dan kampung-kampung (akan tetapi kami tidak mendapatkannya). Kami lalu berkata: “Rasulullah S.a.w. telah diculik dan disandera”. Pada malam itu, tidur kami betul-betul tidak menyenangkan. Ketika pagi hari tiba, tampak Rasulullah S.a.w. sedang bergegas menuju kami dari arah sebuah gua yang berada di tengah padang pasir. Kami lalu berkata: “Ya Rasulullah s.a.w., malam tadi kami betul-betul kehilangan Anda, lalu kami cari-cari kesana kemari akan tetapi kami tidak menemukan anda. Lalu kami tidur dengan sangat tidak menyenangkan”. Rasulullah S.a.w. kemudian bersabda: “Malam tadi saya didatangi oleh utusan dari kelompok Jin, ia membawa saya pergi menemui kaumnya untuk mengajarkan al-Qur’an“. (H.R. Muslim)

Sahl bin Abdullah telah menceritakan ketika aku berada di salah satu kawasan tempat kaum ‘Ad tiba-tiba aku melihat suatu kota yang terbuat dari batu yang dilubangi. Di lubang batu itu yakni di tengahnya terdapat sebuah gedung yang dijadikan tempat tinggal para jin.Lalu aku memasukinya, maka tiba-tiba aku bertemu seorang yang sudah tua dan sangat besar tubuhnya sedang mengerjakan shalat. Orang tua itu memakai jubah dari bulu yang dianyam dengan sangat indahnya (Imam Ibnu Jauzi dalam Kitab Shafwatush Shafwah)

e.    Di Dalam Air

Dari Jabir Rasulullah s.a.w. bersabda : “Sesungguhnya Iblish memiliki singgasana di atas air” (H.R. Muslim dan Ahmad, shahih menurut Imam Suyuthi)

f.     Di Pasar

“Janganlah kalian menjadi orang yang pertama kali masuk ke pasar atau menjadi orang yang paling akhir keluar dari pasar, karena pasar itu merupakan tempat berseterunya para syaithan. Dan di pasarlah syaithan menancapkan benderanya” (H.R. Muslim)

g.    Di Kandang Unta

Rasulullah s.a.w. bersabda: “Janganlah kalian shalat di kandang-kandang unta karena di sana terdapat syaithan, shalatlah di kandang domba karena dia itu membawa berkah” (H.R. Muslim,Abu Dawud dan Ibnu Majah).

h.    Di Masjid Ada Jin?

Sering kita dengar cerita bahwa orang yang melihat Jin berada di dalam masjid melaksanakan sholat, atau orang yang tidur di depan mihrab kemudian terbangun dalam keadaan berada di dalam bedug atau di atas pohon (karena dipindahkan oleh Jin) maka hal itu mungkin saja karena jin-jin memang juga berada di masjid, terutama jin yang muslim mereka juga ada yang tinggal di masjid dan melaksanakan sholat di masjid

Dari Abu Shalih dari Ibnu Abbas r.a. berkata bahwa Jin telah berkata kepada Rasulullah s.a.w. : “Wahai Rasulullah ijinkahlah kami (para jin) untuk ikut melakukan shalat secara berjamaah bersamamu di masjid mu” Maka Allah menurunkan firmanNya : “Dan sesungguhnya masjid-masjid itu kepunyaan Allah, dan janganlah kalian menyembah seorangpun di dalamnya di samping menyembah Allah” (Q.S. Jinn [72] : 18) (H.R. Ibnu Abi Hatim dalam Tafsir Jalalain Jilid IV)

APA MAKSUD HANYA ALLAH SAJA YANG MENGETAHUI HAL GHAIB?

APA MAKSUD HANYA ALLAH SAJA YANG MENGETAHUI HAL GHAIB?

Oleh : Abu Akmal Mubarok

Image

Apakah jika kita membahas masalah hal ghaib itu berarti menyalahi atau menentang ayat yang mengatakan bahwa hanya Allah saja yang mengetahui hal ghaib??

Kita tahu bahwa memang Allah saja yang mengetahui perkara ghaib.

Katakanlah : tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib kecuali Allah (Q.S. An-Naml [27] : 65)

Namun Allah menurunkan Al-Qur’an yang berisi firman-firmanNya di dalamnya terdapat penjelasan segala sesuatu termasuk masalah-masalah ghaib yang hanya Allah saja yang tahu

“Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) yang berisi penjelasan segala sesuatu” (Q.S. An-Nahl : 89)

Lalu Allah memerintahkan RasulNya untuk menjelaskan kaepada manusia. Maka atas perkenan dan kehendak Allah pula, Dia menjelaskan sebagian perkara ghaib ini kepada RasulNya.

“(Dialah Allah) Yang Mengetahui perkara ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya” (Q.S. Al-Jin [72] : 26-27)

“Dan Kami turunkan kepadamu (Muhammad) Al-Qur’an  agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa-apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka (para manusia) memikirkannya” (Q.S. An-Nahl [16]: 44)

Demikian pula selanjutnya, Rasul-Nya menjelaskan kepada para sahabat, apa-apa yang diwahyukan Allah tentang perkara ghaib. Maka dari itu Rasulullah SAW menjelaskan tentang perkara yang ghaib sebatas yang ia ketahui dari wahyu Allah saja:

Katakanlah: ‘Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak pula aku mengetahui yang ghaib dan tidak pula aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengetahui kecuali apa yang diwahyukan kepadaku.’ Katakanlah: ‘Apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat?’ Maka apakah kamu tidak memikirkannya?” (Al-An’am: 50)

Maka berdasarkan pengajaran langsung dari Allah pulalah Rasulullah SAW mengajarkan manusia tentang hal-hal ghaib yang utama adalah tentang Allah sendiri :

Aisyah r.a. berkata, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya orang yang paling takwa dan paling kenal tentang Allah dari kamu sekalian adalah saya‘” (H.R. Bukhari)

Lalu berdasarkan pengajaran langsung dari Allah pulal Rasulullah SAW mengajarkan manusia tentang hal-hal ghaib seperti kiamat, surga neraka, dll

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau SAW bersabda, “Kunci ilmu ghoib itu ada lima. Kemudian beliau pun membaca firman Allah (yang artinya), “Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat, … dst seperti yang disebut dalam surat Luqman : Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati” (Q.S. Luqman [31] : 34) (H.R. Bukhari)

Jika kita runut logikanya begini, Allah adalah termasuk perkara ghaib,  yang mengetahui tentang diri Allah hanyalah Allah sendiri, namun Rasulullah SAW mengetahui tentang diri Allah sejauh yang Allah beritahukan kepada beliau, demikian pula sahabat, tabi’in dan manusia selanjutnya termasuk diri kita, mengetahui tentang Allah sejauh yang Allah informasikan melalui kitabNya dan sejauh yang Rasulullah SAW ajarkan kepada kita, dimana kita membaca hadits-hadits beliau. Maka Rasulullah mengatakan mengetahui tentang Allah itu tidaklah menyalahi. Demikian pula kita mengatakan sesuatu tentang Allah sepanjang itu dilandasi apa-apa yang diinformasikan dari Allah sendiri dan dari RasulNya maka hal itu tidak menyalahi.

Apa Yang Dimaksud Allah Tak Akan Memberitahu Kepada Siapapun Tentang Perkara Ghaib?

Ada yang berpendapat bahwa tidak mungkin siapapun di antara manusia mengetahui hal-hal yang ghaib karena ayat ini :

Dia adalah Tuhan Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. (Q.S. Al-Jin [72] : 26)

Maka ayat ini konteksnya adalah berkait dengan ayat sebelumnya yaitu “Katakanlah aku tidak mengetahui apakah (adzab)yang diancamkan Allah kepada mu itu dekat (sebentar lagi saatnya) ataukah Rabbku menjadikan bagi kedatanganya masa yang panjang (yang tidak diketahui oleh siapapun kecuali Dia). (Q.S. Al-Jin [72] : 26)

Maka  yang dimaksud bahwa Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib bukanlah semua hal ghaib, melainkan terbatas pada kontes pembicaraan adzab Allah yang diancamkan pada Jin yang tidak beriman.

Jadi duduk perkaranya adalah begini. Surat Al-Jiin turun mengenai serombongan Jin dari dusun Nashibin yang mendengarkan bacaan Al-Qur’an yang dibacakan oleh Nabi Muhammad SAW. Lalu sebagian jin ada yang beriman, dan sebagian lainnya tetap tidak beriman.

Kemudian khusus mengenai ayat ke-22, Imam Ibnu Jarir menceritakan hadits dari Hadrami, telah mendengar bahwa seorang jin dari kalangan pemimpin-pemimpin jin yang mempunyai banyak pengikut telah mengatakan : “Sesungguhnya Muhammad ini menginginkan Allah melindunginya, padahal kami (para jin) dapat memberikan perlindungan kepadanya” Maka Allah menurunkan wahyu : “Katakanlah: “Sesungguhnya aku (Muhammad) sekali-kali tiada seorangpun dapat melindungiku dari (azab) Allah dan sekali-kali aku tiada akan memperoleh tempat berlindung selain daripada-Nya. (Q.S. Jiin :22) (Lihat Tafsir Jalalain Jilid IV)

Lalu turunlah wahyu-wahyu selanjutnya Q.S. Jiin ayat 23-26 yang menjelaskan tentang kontes adzab yang diancamkan kepada para Jiin yang tidak beriman yang malahan merasa mampu menjadi pelindung Muhammad, bahwa perkara itu termasuk hal ghaib dan Allah tidak akan memberitahukan kapankah adzab itu akan diturunkan, sebentar lagi kah.. atau masih lama lagi.

Ada juga penjelasan lain, bahwa apa yang dimaksud dengan Allah tidak akan memberitahukan siapapun mengenai perkara ghaib adalah dalam hal-hal yang memang sampai kapanpun siapapun tidak ada yang mengetahuinya seperti misalnya :

1. Masalah Takdir

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib. Tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudh). (Q.S. Al-An’aam : 59)

Pada ayat di atas perkataan “semua yang ghaib” tidak berarti semua secara mutlak berarti kita tidak tahu apapun, melainkan sebagaimana kelanjutan ayatnya yaitu masalah-masalah takdir apa yang bakal terjadi, berapa daun yang gugur, semuanya hanya Allah yang tahu dan semuanya telah ditakdirkan tertulis dalam kitab Lauh Madhfudz.

2. Waktu Pasti Terjadinya Kiamat

Kiamat adalah perkara ghaib, namun tidak semua hal tentang kiamat itu kita tidak tahu. Hal-hal yang kita diberitahu maka kita akan tahu misalnya mengenai bagaimana suasana kiamat itu nantinya :

Tidak adalah kejadian kiamat itu, melainkan seperti sekejap mata atau lebih cepat (lagi). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (An-Nahl: 77)

Adapun mengenai waktu pastinya hanya ada keterangan-keterangan yang sifatnya perumpamaan

Sesungguhnya ajal kalian dan ajal umat-umat yang telah lalu hanyalah seperti masa antara shalat ashar dan tenggelamnya matahari.” (Al-Bukhari VI/495 no. 3459)

Sesungguhna kiamat itu pasti datang. Aku merahasiakan (kapan waktunya)…” (Q.S. Thaha : 15)

Tidak seorangpun dapat menjelaskan waktu kedatangannya (Kiamat) selain Dia” (Q.S. Al-A’raaf : 187)

Bahkan Nabi pun tidak diberitahu Allah

“(Orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari berbangkit, kapankah terjadinya?. Siapakah kamu (sehingga) dapat menyebutkan (waktunya). Kepada Rabbmulah dikembalikan kesudahannya (ketentuan waktunya).” (QS. An Naazi’at: 42-44)

Bahkan juga Jibril pun tidak diberitahu Allah

Dia (Jibril) bertanya lagi : beritahu aku tentang Assa’ah (hari kiamat) Rasulullah menjawab : Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya”.. (H.R. Muslim)

3. Kapan Pasti Waktu Dibangkitkan Dari Alam Kubur Ke Padang Mahsyar

“Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib kecuali Allah”, dan mereka tidak mengetahui kapan mereka akan dibangkitkan. (QS. An-Naml : 65)

Maka yang dimaksud dengan tidak mengetahui perkara ghaib kecuali Allah adalah perjara kapan mereka dibangkitkan yang mana memang sampai kapanpun bahkan Nabi pun tidak mengetahuinya yaitu kapan terjadinya tiupan sangsakala kedua dimana mayit akan dibangkitkan dan dikumpulkan di Padang Mahsyar

4. Kejadian Masal Lalu Yang Tidak Ada Yang Tahu

Misalnya tentang apakah Nabi Isa disalib atau diangkat ke langit

Sesungguhnya Kami telah membunuh Al Masih, `Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan `Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) `Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah `Isa.” (Q.S. Al-Nisaa’: 157)

Atau tentang kisah ashabul kahfi pemuda dan anjingnya yg ditidurkan di dalam gua selama 300 tahun

Kami (allah) lebih mengetahui manakah di antara kedua golongan itu yang lebih tepat dalam menghitung berapa lama mereka tinggal (dalam gua itu). (Q.S. Al kahfi : 12)

Katakanlah: “Wahai Allah, Pencipta langit dan bumi, Yang mengetahui barang ghaib dan yang nyata, Engkaulah Yang memutuskan antara hamba-hamba-Mu tentang apa yang selalu mereka memperselisihkannya (Q.S. Az-Zumar [39] : 46)

APA MAKNA GHAIB?

APA MAKNA GHAIB?

Oleh : Abu Akmal Mubarok

Image

Apakah Arti Ghaib Secara Etimologi / Lughawiy?

Secara tata bahasa (lughawiy) kata ghoib, menurut lisaanul arab berasal dari kata ghoba (tidak tampak, tidak hadir) kebalikan dari kata hadhoro atau dhoharo (hadir atau nampak). Dalam kamus Lisanul Arab disebutkan bahwa “wal ghaib: kullu ma ghaaba ‘anka”, artinya “ghaib itu adalah sesuatu yang absen / diluar jangkauan Anda”. Maka segala perkara yang ditetapkan bahwa manusia memang tidak mampu menjangkaunya, adalah termasuk perkara yang ghaib.

Secara tata bahasa juga arti ghaib adalah tidak terlihat sebagaimana perkataan “bil ghaib” dalam ayat :

Sesungguhnya yang dapat kamu beri peringatan hanya orang-orang yang takut kepada azab Tuhannya (sekalipun) mereka tidak melihatNya (Q.S. Al Faathir [35] : 18) Perkataan “yakhsyauna robbahum bil ghoib artinya adalah takut kepada azab Tuhannya (sekalipun) mereka tidak melihatNya. Maka istilah ghaib di sini adalah tidak melihatNya

الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ وَهُم مِّنَ السَّاعَةِ مُشْفِقُونَ

Yaitu orang yang takut akan adzab Tuhannya walaupun mereka tidak melihatNya (QS. 21:49)

 Ghaib juga berarti ada, tapi tidak diketahui kecuali Allah saja seperti pada (QS. 27:65)

قُل لاَّيَعْلَمُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ الْغَيْبَ إِلاَّ اللهُ

Perkataan “ghoib” pada ayat di atas, diapit sebelumnya dengan kata “laa ya’lamu” dan berikutnya dengan kata “illa Allah”.

Apakah Arti Ghaib Secara Istilah / Maknawiy ?

Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka (Q.S. Al-Baqarah : 2-3)

Menjelaskan ayat di atas tafsir Jalalain mengatakan yang dimaksud dengan hal ghaib dalam ayat itu adalah masalah hari kiamat, surga dan neraka.

Dia adalah Tuhan Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. (Q.S. Al-Jin : 26)

Apakah dia mempunyai pengetahuan tentang yang ghaib, sehingga dia mengetahui (apa yang dikatakan)? (Q.S. An-Najm [53] : 35)

Katakanlah: “Wahai Allah, Pencipta langit dan bumi, Yang mengetahui barang ghaib dan yang nyata, Engkaulah Yang memutuskan antara hamba-hamba-Mu tentang apa yang selalu mereka memperselisihkannya (Q.S. Az-Zumar [39] : 46)

Menurut Jalalluddin Asy Suyuthi yang dimaksud dengan hal ghaib yang hanya Allah saja yang mengetahui itu meliputi 5 hal yaitu : Kiamat, Hujan (cuaca), Kondisi Janin Dalam Rahim, Rejeki, Dan Kematian. Hal ini berdasarkan firman Allah sbb :

Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati” (Q.S. Luqman [31] : 34)

Diperkuat lagi dengan ayat lainnya bahwa di antara hal ghaib adalah masalah kematian, kapan manusia mati, dan bagaimana manusia mati, di belahan bumi mana manusia mati.

Maka tatkala ia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang ghaib tentulah mereka tidak akan tetap dalam siksa yang menghinakan. (Q.S. Saba [34] : 14)

Diperkuat lagi dengan ayat lainnya bahwa di antara hal ghaib adalah masalah kiamat,

Dan orang-orang yang kafir berkata: “Hari berbangkit itu tidak akan datang kepada kami.” Katakanlah: “Pasti datang, demi Tuhanku Yang Mengetahui yang ghaib, sesungguhnya kiamat itu pasti akan datang kepadamu (Q.S. Saba [34] : 3)

Seorang ulama Syiria, Sa’id Hawwa berkata dalam kitab tafsirnya, bahwa setan adalah salah satu zat yang ghaib, kita beriman kepadanya (percaya akan adanya setan). Kita juga beriman kepada semua yang ghaib yang diberitahukan melalui teks-teks agama kepada kita. Kita memperlakukan hal-hal yang ghaib sesuai tuntunan firman Allah dan hadits Rasul. (Al Asas fii Tafsir Jilid I)

Menafsirkan Q.S. 2 : 3-5, Sa’id Hawwa mengatakan : “ghaib”ialah segala yang tidak kelihatan bagi manusia” Apa saja yang termasuk masalah ghaib yaitu apa saja yang disampaikan oleh Nabi SAW baik yang berkaitan dengan masalah hari berbangkit, hisab (perhitungan di akhirat) maupun berhubungan dengan masalah penciptaan, pahala dalam sholat sebagaimana kelanjutan ayat wa yuqiimuna sholah, dan masalah rezeki sebagaimana dalam kelanjutan ayat wa mimma razaqna hum yunfiquun, kemudian beriman pada kitab kitab sebagaimana ayat walladziina yu’minuuna bimaa unzila ilaika (beriman pada yang diturunkan kepadamu yaitu kitab2 para Nabi), serta percaya pada hari akhirat sebagaimana kelanjutan ayat wa bil aakhiroti hum yuuqinuun” (Lihat Al Asas fii Tafsir Jilid I)

Kesimpulannya : Tidak benar jika yang dimaksud hal ghaib di sini adalah hanya masalah Allah saja. Karena masalah lainnya yaitu hal ihwal hari kiamat, surga neraka, pahala dan dosa, makhluk2 Allah yang tidak nampak (yaitu jin dan malaikat), hujan (cuaca), kondisi janin dalam rahim, nasib manusia, takdir, rejeki, jodoh dan kematian termasuk masalah ghaib.

APA PERLU MEMBAHAS MASALAH GHAIB?

APA PERLU MEMBAHAS MASALAH GHAIB?

Oleh : Abu Akmal Mubarok

Image

Seperti kita ketahui sikap manusia mengenai masalah ghaib terbagi pada 2 sikap ekstrim, yaitu yang satu 100% tidak percaya dengan hal-hal ghaib, dan yang satu lagi percaya 100% dengan hal ghaib namun mengikut pemahaman nenek moyangnya dan mempraktekkan sisa-sisa ritual nenek moyangnya yang keliru. Mereka ibarat kutub utara dan kutub selatan, dua2nya ekstrim dan keliru.

Di satu sisi, dunia modern saat ini serba materialistis, semua orang berfikir terbatas pada apa yang bisa dilihat di depan mata, dan sebatas apa yang bisa diindera oleh panca indera kita saja. Maka masyarakat yang telah tersentuh pendidikan modern yang materialistis cenderung tidak percaya dengan hal-hal ghaib. Mereka tidak percaya hantu, mereka tidak percaya adanya jin, dan akhirnya meragukan adanya surga dan neraka, meragukan adanya dosa dan pahala, bahkan secara terselubung maupun terang2an tidak percaya adanya Tuhan. Inilah filsafat materialisme yang diusung oleh Hegel, Karl Marx dan Lenin yang mengatakan bahwa ide adanya Tuhan berangkat dari ketidak mampuan manusia sehingga mencari pembenaran akan adanya dzat yang lebih kuasa.

Maka tidak usah heran jika manusia modern terang2an berani berbuat dosa karena sebenarnya secara tidak sadar atau implisit mereka tidak percaya akan adanya dosa, tidak percaya hari akhirat dan kiamat dan tidak percaya adanya kuasa Tuhan. Dalam seminar motivasi diri, kita diindoktrinasi bahwa kitalah yang menentukan nasib kita, bahkan ada yang secara sombong berkata “kitalah yang menuliskan takdir kita sendiri”. Ini termasuk dalam katagori tidak beriman kepada yang ghaib, dan ini bukan masalah sepele, karena ini adalah masalah aqidah.

Sementara di sisi ekstrim lainnya, kita saksikan sisa-sisa manusia tradisional, terutama di masyarakat Timur yang masih mempercayai adanya hal-hal ghaib bahkan sebagian mereka masih mempraktekkan tradisi dan ritual tertentu, seperti sesaji dan persembahan kepada makhluk ghaib. Mereka percaya pada takdir baik dan buruk, mereka percaya bahwa rezeki ada yang mengatur namun hal itu semua mereka gantungkan kepada dzat supranatural yang menguasai alam, seperti nyai loro kidul yang menguasai laut, dewi sri yang mengusai kesuburan tanah, dsb

Pemahaman mereka akan keberadaan makhluk ghaib serta fenomena peristiwa aneh yang terjadi di sekitar kita dilandasi oleh teori-teori yang disusun berdasarkan dugaan-dugaan nenek moyang.

Dan mereka hanya menduga-duga tentang yang ghaib dari tempat yang jauh. (Q.S. Saba [34] : 53)

Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?”. (Q.S. Al-Baqarah : 170)

Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul.” Mereka menjawab: “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya.” Dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk (Q.S. Al-Maidah : 104)

 “Mereka menjawab: sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian.” (Q.S. Asy Syu’araa’ [26] : 74)

Ustadz Abbas Mahmud Aqad berkata dalam kitabnya berjudul “Iblis” berkata pada zaman sekarang ini terjadi serangan besar2an terhadap segala hal yang gaib, pembahasan masalah ghaib dianggap tidak ilmiah dan mistik. Ada juga aliran rasional yang menganggap semua hal yang gaib adalah tidak masuk akal dan semua teks yang berkaitan dengan hal ghaib dianggap kiasan dan ditakwilkan.

Maka dari itu sangat penting untuk mendudukan secara benar dan meluruskan pemahaman masyarakat tentang alam ghaib. Karena tidak beriman orang yang menolak adanya ghaib sebagaimana firman Allah di awal surat Al-Baqarah :

“(yaitu) mereka yang berimankepada yang ghaib” (Q.S. Al-Baqarah [2] : 3)

Sedangkan orang yang percaya pada yang ghaib namun dengan pemahaman dan persangkaan yang salah tidak sesuai dengan petunjuk Allah juga bisa terjatuh pada syirik.

JIN QORIN

JIN QORIN

Oleh : Abu Akmal Mubarok

Image

Qorin artinya adalah pendamping. Sedangkan jin qorin adalah jin yang ditetapkan Allah menempel dan mendampingi secara permanen pada setiap anak manusia yang dilahirkan di dunia ini.

Abdullah bin Mas’ud mengatakan Rasulullah s.a.w. bersabda : “Tidak seorang pun di antara kalian yang tidak diberi jin pendamping (Qorin)”. Para sahabat bertanya : “Termasuk Anda ya Rasulullah?” Jawab Nabi : “Ya, hanya saja aku mendapat pertolongan Allah sehingga jin pendampingku masuk Islam dan dia tidak mengajakku kecuali yang baik-baik saja”. (H.R. Muslim)

Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Yusuf dari Sufyan dari Manshur dari Salim bin Abu Al Ja’d dari ayahnya dari Abdullah ia berkata; Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tidak ada seorang pun dari kalian kecuali ia ditemani oleh qarin (pendamping) dari bangsa jin dan qarin dari bangsa malaikat.” Mereka bertanya; Juga denganmu? Beliau menjawab: “Ya, begitu juga denganku, tapi Allah membantuku untuk mengalahkannya, sehingga ia masuk Islam.” Abu Muhammad berkata; Ada orang yang mengatakan; Ia masuk Islam dan menyerahkan diri, ia mengatakan; Ia tunduk. (H.R. Ad-Darimi No. 2618) Hussain Salim Assad Ad-Daroni mengatakan sanadnya shahih.

Dari ‘Aisyah r.a. istri Rasulullah s.a.w. menceritakan bahwa Rasulullah s.a.w.pada suatu malam keluar rumah. Lalu kata ‘Aisyah : “lalu saya merasa cemburu kepada beliau”. Lalu Nabi s.a.w.datang dan melihat tingkah saya. Lalu beliau bersabda : “Ada apa ‘Aisyah? Cemburukah engkau?” Saya menjawab : “mengapa tidak akan cemburu orang seperti saya ini terhadap orang seperti engkau?” Rasulullah s.a.w. bersabda :”Datangkah setanmu?” Jawab saya :”Ya Rasulullah apakah saya memiliki setan?” Jawab Nabi : “Ya”.  Saya bertanya : “Juga engkau ya Rasulullah?”  Jawab Nabi : Ya, tapi Rabbku menolongku untuk menguasainya hingga masuk Islam” (H.R. Muslim Jilid 1 No. 413)

Dari hadit-hadits di atas jelas diriwayatkan bahwa setiap manusia memiliki qarin (pendamping) dari kalangan jin dan malaikat. Dan ketika di akhirat kelak, jin Qorin dari manusia menolak dipersalahkan atas kesesatan anak manusia

Dan pendampingnya (Qorinuh) berkata : “ Ya Tuhan kami, aku tidak menyesatkannya namun dia sendiri yang berada dalam kesesatan”. Lalu Allah berfirman : “Jangan kalian bertengkar di hadapan Ku dan sungguh Aku telah memberikan kepada mu dulu” (Q.S. 50 : 27-28)

Walaupun setiap orang memiliki jin qorin yang suka menghembuskan bisikan bisikan jahat dan rasa was-was, namun setiap orang pun bisa mengalahkan atau minimal mengendalikan qorinnya

Sesungguhnya orang mukmin akan dapat mengendalikan (mengalahkan) qorin nya sebagaimana salah seorang dari kalian yang dapat mengendalikan untanya ketika bepergian" (H.R. Ahmad)