APA PERLU MEMBAHAS MASALAH GHAIB?

APA PERLU MEMBAHAS MASALAH GHAIB?

Oleh : Abu Akmal Mubarok

Image

Seperti kita ketahui sikap manusia mengenai masalah ghaib terbagi pada 2 sikap ekstrim, yaitu yang satu 100% tidak percaya dengan hal-hal ghaib, dan yang satu lagi percaya 100% dengan hal ghaib namun mengikut pemahaman nenek moyangnya dan mempraktekkan sisa-sisa ritual nenek moyangnya yang keliru. Mereka ibarat kutub utara dan kutub selatan, dua2nya ekstrim dan keliru.

Di satu sisi, dunia modern saat ini serba materialistis, semua orang berfikir terbatas pada apa yang bisa dilihat di depan mata, dan sebatas apa yang bisa diindera oleh panca indera kita saja. Maka masyarakat yang telah tersentuh pendidikan modern yang materialistis cenderung tidak percaya dengan hal-hal ghaib. Mereka tidak percaya hantu, mereka tidak percaya adanya jin, dan akhirnya meragukan adanya surga dan neraka, meragukan adanya dosa dan pahala, bahkan secara terselubung maupun terang2an tidak percaya adanya Tuhan. Inilah filsafat materialisme yang diusung oleh Hegel, Karl Marx dan Lenin yang mengatakan bahwa ide adanya Tuhan berangkat dari ketidak mampuan manusia sehingga mencari pembenaran akan adanya dzat yang lebih kuasa.

Maka tidak usah heran jika manusia modern terang2an berani berbuat dosa karena sebenarnya secara tidak sadar atau implisit mereka tidak percaya akan adanya dosa, tidak percaya hari akhirat dan kiamat dan tidak percaya adanya kuasa Tuhan. Dalam seminar motivasi diri, kita diindoktrinasi bahwa kitalah yang menentukan nasib kita, bahkan ada yang secara sombong berkata “kitalah yang menuliskan takdir kita sendiri”. Ini termasuk dalam katagori tidak beriman kepada yang ghaib, dan ini bukan masalah sepele, karena ini adalah masalah aqidah.

Sementara di sisi ekstrim lainnya, kita saksikan sisa-sisa manusia tradisional, terutama di masyarakat Timur yang masih mempercayai adanya hal-hal ghaib bahkan sebagian mereka masih mempraktekkan tradisi dan ritual tertentu, seperti sesaji dan persembahan kepada makhluk ghaib. Mereka percaya pada takdir baik dan buruk, mereka percaya bahwa rezeki ada yang mengatur namun hal itu semua mereka gantungkan kepada dzat supranatural yang menguasai alam, seperti nyai loro kidul yang menguasai laut, dewi sri yang mengusai kesuburan tanah, dsb

Pemahaman mereka akan keberadaan makhluk ghaib serta fenomena peristiwa aneh yang terjadi di sekitar kita dilandasi oleh teori-teori yang disusun berdasarkan dugaan-dugaan nenek moyang.

Dan mereka hanya menduga-duga tentang yang ghaib dari tempat yang jauh. (Q.S. Saba [34] : 53)

Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?”. (Q.S. Al-Baqarah : 170)

Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul.” Mereka menjawab: “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya.” Dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk (Q.S. Al-Maidah : 104)

 “Mereka menjawab: sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian.” (Q.S. Asy Syu’araa’ [26] : 74)

Ustadz Abbas Mahmud Aqad berkata dalam kitabnya berjudul “Iblis” berkata pada zaman sekarang ini terjadi serangan besar2an terhadap segala hal yang gaib, pembahasan masalah ghaib dianggap tidak ilmiah dan mistik. Ada juga aliran rasional yang menganggap semua hal yang gaib adalah tidak masuk akal dan semua teks yang berkaitan dengan hal ghaib dianggap kiasan dan ditakwilkan.

Maka dari itu sangat penting untuk mendudukan secara benar dan meluruskan pemahaman masyarakat tentang alam ghaib. Karena tidak beriman orang yang menolak adanya ghaib sebagaimana firman Allah di awal surat Al-Baqarah :

“(yaitu) mereka yang berimankepada yang ghaib” (Q.S. Al-Baqarah [2] : 3)

Sedangkan orang yang percaya pada yang ghaib namun dengan pemahaman dan persangkaan yang salah tidak sesuai dengan petunjuk Allah juga bisa terjatuh pada syirik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s